Sat. Jul 20th, 2024
Pahlawan Indonesia Yang Mempelopori Perjuangan Kaum Wanita

Pahlawan Indonesia Yang Mempelopori Perjuangan Kaum Wanita

Pahlawan Indonesia Yang Mempelopori Perjuangan Kaum Wanita – Dewi Sartika merupakan sosok pahlawan yang mempelopori perjuangan untuk para perempuan saat masa penjajahan Belanda. Setelah kepergian dari Raden Ajeng Kartini, semangat untuk perjuangan mendapat kesetaraan dan kesejahteraan untuk perempuan tidak akan berhenti atau redup sekalipun.

Sosok Dewi Sartika tumbuh bersama dengan para pejuang kemerdekaan Indonesia dan ia hadir untuk kembali mengobarkan semangat untuk dapat memperoleh pendidikan untuk para perempuan. Perjuangan nya memang tidak dituliskan di dalam banyak sumber, akan tetapi tentu sosok Dewi Sartika perlu diketahui akan perannya yang besar dalam dunia pendidikan tanah air. Terutama untuk kaum perempuan.

Dewi Sartika yang berasal dari keluarga sunda yang terkenal, yaitu R Rangga Somanegara sebagai ayah dan R. A. Rajapermas sebagai ibu.

Dewi Sartika dibesarkan didalam keluarga yang bahagia, dengan ke empat kakak laki lakinya, yaitu R. Somamur, R. Yunus, R. Entis, dan R. Sari Pamerat. Sebagai seorang anak bungsu dari lima saudara, Dewi Sartika tidak merasa kesepian, dikarenakan hari harinya yang selalu diisi oleh kegiatan dan bermain bersama orang tuanya, yang memiliki posisi penting di pemerintahan Kabupaten Bandung.

Ia dan saudara dibesarkan oleh ayahnya yaitu Pamerat. Saat kelahirannya saat itu masih belum menjabat menjadi Patih Bandung. Yang mana baru dipromosikan untuk menjadi Patih Afdeeling Mangunreja.

Pada 7 tahun kemudian, di tahun 1891, diangkat menjadi Patih Bandung, yang mana setara dengan wakil dari bupati. Yang mana menjadi anak dari seorang patih, Dewi Sartika ini memiliki status sosial yang mapan di masyarakat pada masa itu, di mana keluarga patih itu termasuk ke dalam golongan priyayi.

Ayah serta ibunya merupakan R. Rangga Somanegara dan R.A. Raja Permas, putri dari Bupati Bandung R.A. Wiranatakusumah IV (1846-1874). Ayahnya adalah seorang pejuang kemerdekaan yang akhirnya dihukum dan dibuang oleh pemerintah Hindia Belanda ke Pulau Ternate dan meninggal disana.

Perjuangan Dewi Sartika

Sejak masih kecil sudah menunjukkan bakat nya di dalam bidang pendidikan dan mempunyai tekad untuk mau kemajuan. Dan sering bermain di belakang gedung kepatihan dengan sambil memperagakan apa yang praktik yang diajarkan di sekolah.

Ia juga mengajari anak pembantu di kepatihan membaca, menulis, dan bahasa Belanda. Dengan menggunakan papan kandang kereta, arang, dan juga pecahan genteng sebagai alat bantu untuk belajar.

Sejak masih kecil Dewi Sartika bersekolah di SD di Cicalengka dan pada saat itu ia sudah menunjukkan minat dalam pendidikan. Di usia 10 tahun dihebohkan dengan kemampuan nya dalam membaca menulis dan beberapa pepatah dengan menggunakan bahasa Belanda yang ditunjukkan oleh anak pembantu kepatihan. Hal ini menjadi sesuatu yang mengejutkan karena waktu itu belum banyak anak-anak yang mana mempunyai kemampuan itu, apalagi seorang anak perempuan.

Karena ingin memberikan kesempatan kepada yang lain di sekitarnya untuk bisa turut memperoleh pendidikan, Dewi Sartika berjuang untuk bisa mendirikan sebuah sekolah di Bandung, Jawa Barat, tempat tinggal nya saat itu. Dewi Sartika yang tidak dapat meraih keberhasilan untuk mendirikan sekolah sendirian. Kakeknya yaitu R.A.A. Martanegara, dan Den Hamer, yang saat itu menjabat sebagai Inspektur Kantor Pengajaran, membantunya dalam perjuangannya.

Di tahun 1904, Dewi Sartika berhasil untuk mendirikan sekolah yang mana sekolah itu diberi nama Sekolah Isteri. Pada saat itu, Sekolah Isteri hanya memiliki dua kelas saja, sehingga tidak dapat menerima seluruh aktivitas sekolah. Maka dari itu, Dewi Sartika meminjam sebagian ruangan di Kepatihan Bandung untuk bisa dijadikan ruang untuk belajar. Pada awalnya, hanya ada 20 murid yang belajar di sekolah tersebut.

Pemikiran Dewi Sartika Akan Para Wanita

Pada awal abad ke-20, gerakan feminis muncul di Hindia Belanda. Dewi Sartika dan Kartini, dua tokoh perempuan pribumi yang mendapatkan pendidikan Barat berkat status mereka sebagai anak bangsawan, dengan melakukan pendirian sekolah khusus untuk putri di tahun 1904.

Selang 4 tahun kemudian, perempuan Belanda ini juga mendirikan cabang Asosiasi untuk Hak Pilih Perempuan Belanda di Nusantara. Pemikiran proto feminis dan feminis pertama kali menyebar di Hindia Belanda, sehingga pada tahun 1928 diadakan Kongres Perempuan untuk pertama kali.

Semua impian dan minat gadis hanya akan berpusat pada pernikahan karena hidup di dalam masyarakat feodal. Lalu pada tahun 1902 Dewi Sartika pulang ke Bandung setelah tinggal di Cicalengka. Alasan kepulangannya yaitu ibunya yang kembali setelah ayahnya tersebut meninggal. Pada tanggal 16 Januari 1904, pun mendirikan sekolah yang khusus untuk perempuan di balai kabupaten Bandung.

Dalam bukunya, Dewi Sartika pun mengatakan bahwa perempuan tidak akan jauh berbeda dari laki-laki. Dan harus diberi pendidikan yang bagus serta ajaran yang kuat. Dia percaya akan perkembangan informasi yang dapat mempengaruhi nilai pada perempuan adat, yang hanya dapat dipelajari dari pendidikan di sekolah.

Dewi Sartika sangat lah serius untuk membangun sekolah bagi para perempuan supaya dapat belajar membaca dan juga menulis. Dan juga tidak terbatas akan norma-norma lama yang menghalangi perempuan untuk mandiri.

Meskipun mengalami sebuah keretakan di dalam keluarganya dan juga mengandalkan bantuan dari para kerabat serta kehilangan akan kekayaannya. Dan juga ibunya yang tidak mendukung akan rencananya untuk kembali ke Bandung dari Ternate, Dewi Sartika tetap berusaha untuk dapat mewujudkan setiap mimpinya dengan menghadap pada Bupati Bandung saat itu.

Dewi Sartika yang mana sebagai pelopor dari pendidikan untuk perempuan, yang mempunyai pandangan jauh ke depan. Bahwa perempuan harus memiliki pengetahuan maupun kemampuan menjadi calon ibu rumah tangga. Seperti menjahit, memasak, merajut, ataupun keterampilan lain yang berkaitan secara langsung dengan pekerjaan para perempuan.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *