Sun. Apr 21st, 2024
Yang Bisa Dipelajari Dari Gerakan Perempuan Di Indonesia

Yang Bisa Dipelajari Dari Gerakan Perempuan Di Indonesia

Yang Bisa Dipelajari Dari Gerakan Perempuan Di Indonesia – Gerakan perempuan Indonesia yang mana sudah melalui empat fase. Yang mana pada masa pemerintahan berbeda. Dan tetap masih berjuang dengan keras untuk dapat mewujudkan kesetaraan dan juga keadilan gender.

Fase fase ini yaitu dari masa era Kartini hingga kemerdekaan pada tahun 1945. Setelah masa kemerdekaan hingga tahun 1965. Masa orde baru hingga tahun 1998. Dan juga dari tahun 1998 hingga saat ini.

Di masa fase awal pada tahun 1900an, pikiran yang dituang kan oleh R.A. Kartini. Terutama tentang himbauan dari tiga bersaudara Kartini yang tertera di dalam koran De Locomotief Semarang. Yang mana telah memberikan pengaruh sangat besar akan lahirnya sebuah organisasi perempuan. Atau yang disebut dengan gerakan perempuan di Indonesia.

Sebelum kemunculan Kartini di akhir abad 19. Sudah terdapat perempuan di kalangan bangsawan yang selalu giat memajukan perempuan. Akan tetapi masih sangat terbatas di lingkungan kecil nya. Sukanti Suryochondro ini di dalam bukunya. Yaitu Potret Pergerakan Wanita di Indonesia pun mengungkapkan bahwa emansipasi perempuan di kalangan para raja Jawa misalnya. Pada mulanya sudah tampak di lingkungan Keraton Pakualaman di Yogyakarta.

Para pelopor emansipasi perempuan ini pada saat itu sudah menyoroti masalah pendidikan untuk para kaum mereka. Dan para pelopor itu termasuk juga Kartini kemudian pun menyadari dengan pendidikan akan meningkatkan kesadaran. Dan juga dapat mengembangkan kemampuan para perempuan yang mana akan berguna bagi kemajuan masyarakat.

Kartini pun akhir nya mencoba membuka akses pendidikan untuk para perempuan. Dengan cara membuka sekolah di rumahnya sendiri. Dan di tempat lain dengan memiliki semangat yang sama, Dewi Sartika yang di tahun 1904 turut mengepalai sekolah yang terdapat di Bandung. Maria Walanda Maramis di tahun 1918 juga turut mendirikan sekolah rumah tangga Indonesia yang pertama yang terdapat di Manado.

Kongres Perempuan Pertama

Pergerakan perempuan berkembang dengan pesat di tahun 1930 an. Yang mana bisa dilihat dari pelaksanaan Kongres Perempuan pertama yang terdapat di Indonesia. Tahun 1928 berlokasi kan di Yogyakarta. Kongres tersebut telah menghasilkan beberapa poin penting mengenai isu perjuangan perempuan Indonesia. Yang mana di dalam nya melibatkan perempuan untuk pembangunan bangsa. Pemberantasan pada buta huruf dan juga kesetaraan hak dalam memperoleh sebuah pendidikan. Hak untuk para perempuan di dalam perkawinan. Pelarangan untuk perkawinan anak. Beserta upaya untuk menghancurkan ketimpangan dalam kesejahteraan sosial melalui perbaikan gizi maupun kesehatan untuk para ibu dan juga balita.

Perkembangan organisasi perempuan mulai mengalami kesurutan di masa pendudukan Jepang pada tahun 1942. Dikarenakan semua organisasi perempuan telah dilarang kecuali Fujinkai. Yang mana merupakan sebuah organisasi bentukan dari Jepang yang beranggotakan istri pegawai negeri di dalam nya. Kegiatan yang dilakukan yaitu berupa kegiatan sosial seperti pemberantasan pada buta huruf. Walaupun kegiatan ini dibilang sangat positif. Akan tetapi pendirian organisasi ini jauh dari perjuangan para perempuan. Hal ini dikarenakan organisasi dibangun secara semata mata untuk mendukung kemenangan Jepang.

Pasca kemerdekaan yang terjadi hingga tahun 1965, berbagai organisasi perempuan mulai bermunculan kembali. Hal ini dapat terlihat dari terbentuknya organisasi perempuan yang lain seperti Gerakan Wanita Sedar atau yang disingkat dengan GERWIS. Organisasi ini berdiri di tahun 1950. Dan selang 2 tahun kemudian, organisasi ini pun telah berganti nama menjadi Gerakan Wanita Indonesia atau GERWANI.

Sejak awal berdirinya, organisasi telah banyak melakukan berbagai kegiatan. Guna meningkatkan kesadaran para kaum perempuan untuk memperjuangkan hak hak yang seharus nya bisa mereka dapatkan. Akan tetapi di saat momen kongres perempuan yang ketiga, organisasi ini sudah mulai memperlihatkan keberpihakan nya pada politik.

Organisasi ini memfokuskan diri dengan cara memimpin gerakan yang lebih luas. Membangun gerakan massa semangat Partai Komunis Indonesia. Yang mana lebih mengutamakan sistem sosialisme terlebih dahulu sebelum mulai membicarakan persoalan spesifik mengenai wanita.

Gerakan Perempuan Di Masa Orde Baru

Memasuki pada masa Orde Baru, gerakan perempuan sudah dipukul mundur. Yang mana dengan diawali penghancuran organisasi GERWANI. Dengan melalui berbagai kampanye surat kabar militer yang mana milik pemerintah. Diantara tanggal 10 Oktober hingga 12 Oktober tahun 1965. Kampanye ini telah mengeluarkan satu narasi yang mengatakan kalau GERWANI akan bertanggung jawab atas terjadi nya pembunuhan kepada tujuh orang jenderal yang terjadi di Lubang Buaya, Jakarta. Dan dari kampanye ini juga, secara bertahap organisasi massa perempuan ini diberangus oleh rezim Orde Baru. Beserta para aktivisnya pun ikut ditangkap, lalu dibuang hingga dibunuh pada tahun 1968.

Dari ideologi ini, organisasi perempuan yang ada pun akhir nya menjalankan perannya untuk melanggengkan kuasa dari pemerintah atas seksualitas perempuan. Beserta membingkai kewajiban perempuan. Yang mana sebagai pendamping para suami dan para ibu yang akan senantiasa untuk selalu mengerjakan urusan urusan nya.

Di masa terakhir pasca masa reformasi tahun 1998 hingga sekarang. Yang mana Nursyahbani menjadi sebuah momen ketika gerakan perempuan ikut berjuang melawan paham konservatisme agama, seksisme dan juga oligarki di dalam kehidupan politik dan ekonomi. Yang mana juga melakukan diskriminasi gender di dalam masyarakat. Perjuangan untuk melawan konservatisme agama ini menjadi salah satu pekerjaaan besar untuk gerakan perempuan. Dikarenakan konservatisme agama akan menghambat perempuan untuk mendapatkan setiap hak mereka.

Hal ini juga dapat terlihat dari kenyataan akan Rancangan Undang Undang Penghapusan Kekerasan Seksual yang mana tidak kunjung untuk disahkan. Dengan seiring beredarnya rumor tentang RUU ini yang bertentangan dengan nilai moral dan juga agama di Indonesia. Tren akan kekerasan terhadap perempuan terus meningkat. Serta belum terdapat hukum yang spesifik yang dapat melindungi perempuan dari kekerasan seksual.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *